Likeship.me – Malam lalu tanggal 27 Januari 2017 beberapa stasiun tv menayangkan debat pilkada DKI diantara 3 pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tema debat kedua kali ini adalah reformasi birokrasi, pelayanan publik dan penataan kota. Menurut pengamat, debat tersebut menguntungkan pasangan Ahok dan Djarot yang sudah mempunyai pengalaman dalam hal itu selama mereka memimpin. Mungkin oleh karena itu 2 paslon terlihat sekali lebih fokus menjatuhkan paslon 2 daripada memperjelas program mereka seperti yang dilakukan oleh paslon 2 yaitu Ahok dan Djarot.

Paslon 1 mengatakan bahwa mereka akan membangun konsep bangunan vertikal untuk setiap rumah daripada horizontal karena hal tersebut lebih efisien daripada menggusur. Sementara paslon 2 mempunyai program membuat sebuah apartemen di dekat terminal dengan bayar sewa yang murah untuk pegawai gaji kecil, dan akan dijual dengan harga modal sebesar 300 juta untuk pegawai gaji diatas 10juta untuk mengurangi kemacetan dari orang-orang luar kota yang bekerja di Jakarta. Paslon 3 tidak mau kalah dengan memberikan kredit rumah kepada rakyat yang memiliki Dp atau downpayment hanya 0% tanpa mengetahui berapa fantastisnya harga tanah di ibu kota saat ini.

Paslon 2 mengatakan membangun mega proyek Semanggi dengan sistem kerelaan dan perjanjian komitmen agar tidak melanggar perda dikarenakan Ahok pernah jadi anggota DPR RI komisi 2 sehingga dia mengerti betul mengenai peraturan pembangunan untuk Jakarta. Sementara itu paslon 1 berargumen sebaiknya Ahok membuat hubungan yang harmonis dengan DPR dan membuat program yang jelas bahwa uang yang masuk harus dikumpulkan lalu dimasukkan buku besar, itu yang mereka namakan harmonis. Ahok berkilah mengatakan bu Silvy sepertinya tidak mengerti mengenai perda bahwa tidak diizinkan ada uang masuk tiba-tiba walaupun hal tersebut dengan pembangunan sehingga mereka menggunakan cara dengan membuat perjanjian.