Denny Indrayana
Denny Indrayana

Denny Indrayana, Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, yang kini tinggal di kota Melbourne, Australia sebagai Visiting Profesor di University of Melbourne, tepatnya di Law School and Faculty of Arts. Disamping sebagai professor, Denny pun bekerja menjadi sopit untuk mengantarkan WNI yang datang ke Melbourne.

Denny menceritakan, di hari Jumat (20/1/2017) ia menerima tamu agar dijemput di Bandara kota Melbourne. Namun ternyata, salah seorang dari tamunya tersebut adalah jurnalis.

“Mingkin nyambi sebagai sopir di Melbourne bisa dianggap layak diberitakan. Tapi sebenarnya biasa aja, toh bukan semata perlu penghasilan tambahan, tapi menjadi sopir juga kan sebenarnya tidak masalah. Seperti halnya jadi dosen kan juga nggak masalah. Tak semua harus menjadi Presiden RI atau Gubernur Jakarta juga kan,”ujar Denny.

Denny berujar, bekerja mencari penghasilan tambahan di negeri orang sebenarnya bukan sekarang saja dilakukannya.  “Dulu sewaktu masih S3 di Melbourne, juga sembaru buruh di pasar. Tapi yang penting halal, happy dan juga bukan hasil dari korupsi!” ungkap Denny Indrayana.

Meskipun sempat menduduki jabatan penting dalam pemerintahan, Ia yang juga pernah mendapatkan gelar professor Melbourne Law School mengaku menjalani kehidupan saat ini tanpa ada beban.

“Semenjak dulu saat kuliah di Australia juga memang sudah begini. Jika disini namanya ya kerja kasual,” tandasnya.

Ia bahkan terlihat sedang bercengkrama dengan santai bersama kerabat dalam festival pantai di Wonderful Indonesia.

Adapun satu-satunya yang menjadi bebannya, yaitu hidup dengan status tersangkanya masih belum pasti dan telah lama disandang. Tak sedikit kerabat Denny pun yang tak mempersoalkan hal tersebut.

Denny pun akhirnya mendapatkan tawaran sebagai dosen visiting di University of Melbourne di bulan April lalu. Waktu itu, dirinya menghabiskan banyak waktu untuk menulis jurnal dan menunlis buku.

Di Australia sendiri, Denny mengontrak rumah sederhana yang ada di luar kota, di Melbourne barat. Kedua anak Denny Indrayana yang awalnya nyantri di Ponpes Darunnajah pun turut serta di bawa.

Putra-putrinya bisa bersekolah di sekolah umum area setempat, dengan begitu biayanya pun lebih murah. Demi menghemat biaya, maka keduanya memilih memakai buku pelajaran yang bekas dibandingkan buku yang baru.