Buku Jokowi Undercover Ditulis Oleh Bambang Tri
Buku Jokowi Undercover Ditulis Oleh Bambang Tri

Brigjen Pol Rikwanto, selaku Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas, mengatakan bahwa penulis Jokowi Undercover, Bambang Tri Mulyono sempat mengajukan bukunya tersebut ke sejumlah penerbit.

Hanya saja, para penerbit kebanyakan menolak sebab konten yang ia tulis tersebut dianggap hanya berdasarkan opini pribadinya saja.

“Ia mencoba lewat beberapa penerbit, namun ditolak sebab kontennya sama sekali tak dapat dipertanggungjawabkan,” ucap Rikwanto ketika dijumpai di Kompleks Mabes Polri, di Jakarta, Pada hari Selasa (3/1/2017).

Hingga akhirnya, Bambang pun mencari jasa percetakan biasa lalu mencetak buku Jokowi Undercover : Melacak Jejak sang Pemalsu Jatidiri yang ia kerjakan sendiri. Media pemasarannya pun tidak dilakukan di berbagai toko buku, tetapi lewat akun Facebook dirinya, Bambang tri.

“Saat ini, kami sedang melakukan pelacakan tempat ia mencetaknya dimana saja,” ujar Rikwanto.

Pihak kepolisian juga tengah menelusuri orang-orang yang sudah membeli buku tersebut dari Bambang. Sampai sekarang juga belum diketahui jumlah eksemplar buku tulisan Bambang yang telah terjual.

“Hasil distribusinya sendiri masih kita lacak. Siapa saja yang memesan, sudah berapa banyak pemesan, pastinya ada alamatnya melalui internet,” tambah Rikwanto.

Adapun salah satu tulisan yang telah dibuat Bambang lewat buku Jokowi Undercover tersebut yaitu menyatakan bahwa Jokowi sudah memalsukan data ketika mencalonkan dirinya menjadi presiden tahun 2014 silam.

Selain itu, Bambang pun menyebut bahwa Desa Giriroto di Boyolali, adalah basis dari PKI (Partai Komunis Indonesia) yang terkuat di Indonesia, PKI sendiri sebenarnya sudah dibubarkan pada tahun 1996 silam.

Bambang menuliskan hal tersebut, dianggap seakan-akan nyata tanpa didasari dokumen pendukung dalam tulisannya.

Di samping itu, Bambang pun dianggap telah menyebarkan kebencian pada kelompok masyarakat khususnya yang bekerja di bidang pers. Dimana dirinya menyebut sosok dari presiden Jokowi dan wakil presiden Jusuf Kalla telah muncul atas keberhasilan dari media massa, selain itu dianggap sudah melakukan kebohongan pada rakyat Indonesia.

Penulis buku Jokowi Undercover tersebut pun telah dikenakan hukuman pasal 16 UU No.40 Th. 2008 mengenai penghapusan atas diskriminasi terhadap ras dan etnis. Ia juga dijerat hukum atas pasal 28 ayat 2 mengenai UU ITE, sebab telah menyebarkan informasi sehingga bisa menimbulkan kebencian maupun permusuhan baik terhadap individu maupun kelompok masyarakat berdasarkan SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).